Selasa, 18 September 2018

Kisah Klasik "Kuliah Kerja Nyata" #KKN GEMPAR 2014 (Part 2)

Sebelumnya di Part . . . 1

Singkat cerita, satu bulan pun berlalu. Semua program kerja yang telah kami buat Alhamdulillah dapat berjalan lancar. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dan kembali melakukan rutinitas seperti biasa layaknya sebelum KKN. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kesan-kesan aneh yang tadinya negatif tentang KKN dan desa pun hilang, berubah 360 derajat menjadi sekumpulan kesan positif dalam bentuk kekaguman. Ternyata selama ini, saya telah salah menilai tentang semua itu. Bahkan sebaliknya, saya sangat jatuh cinta dengan adanya kegiatan KKN ini yang dilakukan di Desa Sukaharja. Ingin rasanya, saya melakukan sekali lagi kegiatan KKN ini, dan jika perlu lebih sering lagi. Oh tidak! Betapa bodohnya saya yang sempat berpikir negatif tentangnya. Saya akui, jika saya sangat marah terhadap diri saya sendiri dan menyesal  bisa memiliki pikiran seperti itu. Terima kasih Ya Allah sudah menyadarkan saya melalui kegiatan KKN ini.

Selama satu bulan melaksanakan kegiatan KKN di Desa Sukaharja, saya pribadi mengalami hal-hal yang sungguh luar biasa, yang tidak mungkin saya dapatkan di kehidupan Kota Jakarta. Banyak sekali momen-momen yang tak terlupakan yang membuat saya selalu terbayang akan setiap sudut Desa Sukaharja ketika kaki ini tidak lagi berpijak di sana. Mungkin jumlahnya tak terhitung, walaupun demikian saya masih dapat merasakan semuanya hingga sekarang. Saya bingung, dan entah harus mulai dari mana saya menceritakan pengalaman-pengalaman tak ternilai ini kepada para pembaca buku ini. Mungkin kesan-kesan yang akan saya tuangkan dalam tulisan ini dapat mewakili semua kesan dari sekian banyakanya kesan yang saya alami di Desa Sukaharja, yang tidak mungkin dapat saya ceritakan semuanya. Yang jelas, selama berada di sana saya mendapatkan banyak sekali hikmah yang dapat saya petik dari berbagai ilmu, pelajaran dan pengalaman yang telah saya lihat dan saya alami, yang tentunya tidak saya dapatkan di bangku perkuliahan. Saya berharap dengan memetik hikmah tersebut, saya bisa menjadi manusia yang lebih mandiri, lebih dewasa dalam menjalani hidup, dan lebih berguna lagi bagi orang lain. Di sana, saya banyak belajar untuk bagaimana cara bertoleransi yang benar dan baik dalam menghargai orang lain, serta belajar bagaimana cara memahami dan menyikapi orang-orang yang memiliki berbagai macam karakter yang berbeda satu sama lainnya. Di sana kami benar-benar diajarkan untuk hidup mandiri dan sederhana, jauh dari kata mewah. Mulai dari pakaian yang harus kita cuci sendiri, makan-makanan yang kami konsumsi setiap harinya, hingga gadget mahal yang kurang berfungsi dikarenakan sinyal yang sulit didapat. Namun di balik kondisi itu semua, saya bersyukur, karena ada nilai-nilai tersendiri yang dapat dijadikan pelajaran oleh kami, terutama saya sendiri. Saya yang biasa di Jakarta makan sepiring untuk sendiri, maka di sana saya diajarkan supaya makan tidak berlebihan, dengan setampan untuk empat orang dengan satu rasa yang sama. Urusan kenyang atau tidaknya pun dijalani bersama-sama. Alhamdulillah, selama KKN di sana pola makan saya teratur dan terjaga. Lalu, kami yang setiap harinya di Jakarta biasa bermain handphone super mewah untuk sekedar berinternetan dan bersosialmediaan dengan kerabat di dunia maya, maka di sana kami diajarkan untuk hidup tanpa internet dan diajarkan untuk berkomunikasi langsung di dunia nyata secara intens. Ya, walaupun bisa saja kami mendapatkan sinyal, asalkan jika kami mau mencari sinyal di tengah lapangan yang luas dan tempat yang tinggi, itupun hanya kartu perdana XL yang dapat digunakan di sana. Nah, dengan tidak adanya internet ini, saya merasakan adanya kedekatan emosional tersendiri antara hubungan yang satu dengan yang lainnya, yang membuat kebersamaan kami pun semakin intens. Di mana segala sesuatunya kami jalani bersama dengan penuh canda-tawa. Bahkan, HP yang tidak bisa untuk internetan tadi dijadikan oleh kami untuk berfoto-foto yang menambah kedekatan di antara kami. Coba deh bayangkan, apabila internet di HP mereka masing-masing berfungsi, maka apa yang terjadi? Yang pasti, mereka akan sibuk bermain HP sendiri-sendiri dan tidak akan duduk bersama dalam satu tempat. Mereka yang bermain HP akan cenderung berbicara, tertawa, dan tersenyum sendiri seperti orang autis, hahaha.

Masih terniang di ingatan saya, hal-hal sepele nan lucu apa saja yang terjadi di setiap sela-sela waktu kosong kami, baik itu pada pagi, siang, sore, maupun malam hari sebelum maupun sesudah melakukan aktifitas KKN. Kami selalu berkumpul dan bercengkrama bersama untuk sekedar mengobrol santai, bercanda tawa dengan berbagai permainan yang kami buat, bernyanyi-nyayi setengah gila mengikuti alunan lagu yang kami setel di laptop, berebut “bantal pocong” dengan Mu’min saat menjelang tidur, hingga berebut mencari sinyal di jendela rumah yang kami huni di sana. Permainan gila yang sering kami mainkan yaitu karambol dan kartu remi. Jika sudah bermain karambol, itu yang namanya tertawa tidak bisa ditahan lagi. Sampai-sampai yang tertawa bisa mengeluarkan air mata karena saking lucunya. Dalam permainan ini, hukuman bagi kami yang timnya kalah yaitu dicoreng dengan bedak. Puncak kehebohan dan kelucuan itu terjadi ketika sedang ingin menaburkan bedak ke wajah tim yang kalah. Apalagi jika bermainnya dengan si Yuni, yang tidak lain adalah si “Ratu Sodok” (begitulah kami menyebutnya), hahaha. Padahal dia itu adalah seorang wanita, tapi sangat ahli dalam hal menyodok di permainan karambol ini. Kalau kata-kata yang sering dia diucapkan itu, “iiieeeyuhhh bingits”, bahasa alay nan lebay yang menyebar ke anggota KKN GEMPAR, bahkan hingga ke anak-anak kecil di sana, hahaha. Permainan gila selanjutnya yaitu kartu remi. Kami biasa memainkannya dalam jenis “ceki” ataupun “pokerPermainan ini hanya dimainkan oleh laki-lakinya saja. Jika sudah bermain ini, maka kami yang bermain akan lupa waktu dan pasti sampai larut malam. Nah, untuk hukumannya berbeda dengan permainan karambol yang dicoreng bedak jika kalah, di sini jika yang kalah maka akan disuruh jongkok sampai yang kalah bisa menang pertama. Saya sendiri pun tidak luput dari hukuman itu, hehehe. Kami juga pernah diundang oleh salah satu aparatur desa yang bernama Pak Benny untuk bermain playstation di rumahnya hingga larut malam. Rasanya senang sekali bisa bermain bersama dengan salah satu aparatur desa. Terima kasih Pak Ben (sapaan akrab kami kepada beliau) sudah mengundang kami, hehehe. Selain bermain, kami juga selalu bernyanyi bersama mengikuti alunan lagu yang kami setel di laptop. Biasanya lagu yang sering diputar itu lagu dari band Tipe-X yang berjudul “Kamu Ga’ Sendirian”. Nah, jika lagu ini sudah diputar, kami serumah pasti berteriak-teriak memanggil nama Risna dan menyuruhnya untuk menyanyikannya. Awalnya saya bingung dan dikira ada apa, eh usut punya usut, ternyata dia itu adalah salah satu fans berat dari band Tipe-X. Padahal jika dilihat dari penampilannya, dia itu wanita yang muslimah sekali dan tipe-tipe wanita yang tidak menyukai lagu-lagu seperti itu, tapi faktanya berbeda dan seleranya boleh juga, hahaha. Ada lagi kejadian lucu di saat anak-anak KKN GEMPAR mencari sinyal di rumah. Untuk mendapatkan sinyal, mereka harus berebut posisi yang tepat untuk meletakkan HPnya. Anehnya, tempat yang hanya bisa menghasilkan sinyal kuat itu berada di jendela rumah. Alhasil, mereka pun harus berhimpit-himpitan. Banyak hal juga yang membuat saya pribadi sangat senang di sini. Salah satunya yaitu ketika ada beberapa anak yang memberikan saya hadiah dalam bentuk kado dan gambar mengenai diri saya. Itu terjadi menjelang acara perpisahan KKN GEMPAR dengan Desa Sukaharja. Sungguh, saya sangat mengapresiasikan sekali tindakan mereka yang sudah mempunyai niat untuk membuat dan memberikan kado buat saya, dan hal ini tidak akan saya lupakan.

Bersambung ke Part . . . 3 - 4
***
Share:

Kisah Klasik "Kuliah Kerja Nyata" #KKN GEMPAR 2014 (Part 1)

Berbicara mengenai Kuliah Kerja Nyata atau sering disebut KKN, saya teringat apa yang pernah dahulu saya pikirkan tentangnya. Awalnya, saya beserta teman-teman saya menentang dan mengkritiki dengan diadakannya program KKN ini. Pada saat itu saya berpikir, kenapa sih harus diadakan “Kuliah Kerja Nyata” di desa-desa, apalagi desa terpencil pula, dan kenapa tidak diadakan program “magang” atau “kerja” di salah satu perusahaan, dimana akan sangat sinkron dengan latar belakang fakultas dan jurusan yang saya ambil di bangku perkuliahan. Belum lagi pikiran-pikiran negatif yang berasal dari ketakutan-ketakutan saya terhadap sebuah desa terpencil yang dipenuhi dengan berbagai permasalahan yang saya harus siap hadapi apabila KKN ini dilaksanakan. Ketakutan itu mulai dari dana yang harus dipersiapkan, air bersih yang sulit didapat, tempat tinggal yang jauh dari keramaian kota, hidup dengan orang-orang yang tidak saya kenal, akses transportasi yang susah, tidak adanya sinyal, waktu KKN yang begitu lama dan masih banyak lainnya. “Oh nooo!”, keluh saya di dalam hati.

Hari-hari pun berlalu, dan dengan perlahan saya mulai menerima keputusan dari universitas itu. Yah, walaupun pada saat itu dengan setengah hati. Saya pun mempersiapkan diri untuk segala sesuatunya. Saya awali dengan pencarian anggota kelompok untuk program KKN, yang mana anggota-anggota dari kelompok KKN ini nantinya akan menjadi teman seperjuangan saya dalam mendesign, melaksanakan dan menyukseskan program-program kerja yang akan dibuat bersama. Setelah mencari-cari anggota kelompok yang cocok dan sempat mendapatkan beberapa tawaran dari berbagai kelompok, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dan menerima tawaran dari teman dekat saya yang bernama Dede Saepudin, yang pada nantinya kelompok ini bernama KKN GEMPAR.

Kelompok ini berjumlah 14 orang dan didominasi oleh anak-anak alumni Pondok Pesantren As-Syiddiqiah. Hanya beberapa orang saja yang bukan, termasuk saya. Sebelum masuk ke dalam kelompok ini, saya sudah mengenal beberapa orang, sebut saja Iksan, Alam, Faiz dan Mu’min. Nah, Iksan ini adalah teman dekat saya di kampus dan kebetulan satu jurusan. Untuk Alam, Faiz, dan Mu’min, mereka adalah teman satu kosan Dede Saepudin, yang tidak lain adalah teman satu jurusan juga dengan saya sepeti halnya Iksan. Ketika saya dan Iksan sudah tidak ada jam kuliah lagi, kita berdua sering bermain ke kosan Dede untuk sekedar beristirahat. Itulah mengapa saya mengenal mereka bertiga. Walaupun demikian, ketika awal mula saya masuk dalam kelompok ini dan memperkenalkan siapa saya ke anggota lainnya, saya masih diselimuti rasa canggung. Mungkin karena sifat saya yang pemalu akan orang baru yang belum saya kenal, hehehe. Pikiran-pikiran aneh saya pun muncul lagi terhadap karakter masing-masing orang yang ada pada kelompok KKN GEMPAR ini. “Wah jangan-jangan dia orangnya seperti ini? Wah jangan-jangan dia orangnya seperti itu? Ah sudahlah, biar waktu yang menunjukkannya”, sangka saya di dalam hati.

Minggu demi minggu, kami mengadakan rapat dalam rangka pembuatan program kerja KKN dan membahas kebutuhan apa-apa saja yang harus dipersiapkan nantinya. Akhirnya, tiba juga hari di mana saya dan semua anggota KKN GEMPAR siap untuk berangkat dan siap untuk mengaplikasikan semua program kerja yang telah dibuat bersama dari hasil rapat yang begitu panjang. Setelah menempuh sekitar beberapa jam perjalanan dari Ciputat, akhirnya kami pun tiba di lokasi KKN. Ya, Desa Sukaharja namanya. Sebuah desa kecil di Kecamatan Sukamamur, tepatnya di sebelah timur Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa yang memiliki luas wilayah ±3.650 Ha dan tercatat dihuni oleh 6.881 jiwa atau 1.892 kepala keluarga pada akhir bulan September 2010. Desa di mana saya beserta kawan-kawan KKN GEMPAR akan mengabdikan diri sebagai representasi dari salah satu isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat.

Bersambung ke Part . . . 2 - 3 - 4

***
Share:

Cara Mengembalikan Flag Counter yang Hilang di Blogger

Berawal dari gonta-ganti template blog pada September 2018, tidak sengaja ternyata saya menghapus data Flag Counter yang selama ini telah ada sejak tahun 2013. Alhasil, semua data count yang selama ini sudah terkumpul lumayan banyak, harus dimulai dari awal ketika ingin membuat Flag Counter baru. Asli ngenes. Setelah saya gugling sana-sini, sebenarnya saya mendapatkan solusinya. Namun, saya melihat cara tersebut sangat sulit untuk saya ikuti. Tidak menyerah sampai di situ, akhirnya saya mengunjungi website resmi Flag Counter. Dari sinilah, saya mendapatkan salah satu cara untuk mengembalikan data count Flag Counter kita yang hilang. Adapun caranya yaitu sebagai berikut:

  1. Buka http://flagcounter.boardhost.com/ di mesin pencarian Anda.
  2. Setelah muncul tampilan seperti di bawah ini, lalu lihat pada bagian Check the Internet Archive dan klik http://web.archive.org.

  3. Lalu, masukan URL blogger Anda ke dalam kotak biru. Untuk contoh saya memasukkan URL.
  4. Setelah memasukkan URL, Anda akan melihat tampilan data history blogger yang Anda miliki. Langkah selanjutnya, carilah angka yang bertuliskan huruf tebal. Untuk kasus di bawah, hanya terdapat dua saja, yaitu 16 Januari 2018 dan 14 Maret 2018. Lalu mana yang harus kita pilih?Oke, pilihlah tanggal yang paling mendekati terbaru, untuk kasus contoh ini, saya memilih tanggal 14 Maret 2018. Lalu, klik angka 14. 
  5. Selanjutnya, akan muncul data history blogger Anda, dan carilah gambar widget Flag Counter seperti contoh berikut. Jika sudah menemukannya, klik gambar tersebut. 
  6. Tunggu hingga muncul tampilan seperti berikut. Carilah tulisan Regenerate HTML di pojok kiri bawah, kemudian klik.
  7. Setelah itu akan muncul tampilan seperti berikut. Anda akan melihat data Flag Counter seperti yang ada pada Tahap 5. Jika ingin merubah tampilannya, Anda hanya perlu mengaturnya. Jika dirasa sudah seperti yang Anda inginkan, klik Get Your Flag Counter. Ikuti langkahnya.
  8. Setelah itu, Anda akan mendapatkan kode HTML Flag Counter data lama Anda tanpa harus memulai dari hitungan awal (0) lagi. Anda hanya perlu menyalinnya.
  9. Langkah terakhir setelah Anda mendapatkan dan menyalin kode HTML Flag Counter yaitu, Login ke akun blogger Anda - Tata Letak - Tambahkan Gadget - HTML/JavaScript - Masukkan judul dan kode HTML yang tadi kalian copy - Simpan
  10. SELESAI. Anda bisa mengeceknya di tampilan blogger Anda.
Semoga bermanfaat.
- Jumadi 2018
Share:

Peta Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur - Bogor


Ini adalah peta Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor bagian Timur - Jawa Barat, Indonesia. Peta ini dibuat ketika saya masih dalam menjalani program Kuliah Kerja Nyata yang diadakan oleh kampus pada tahun 2014. 

Peta Desa Sukaharja - Kecamatan Sukamakmur


Peta ini dibuat berdasarkan data-data yang diperoleh dari Kantor Desa Sukaharja, dan kurang lebih hasilnya seperti ini. Semoga gambar ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang sedang membutuhkan. Karena jujur, pada saat itu sangat sulit mendapatkan data dan informasi mengenai desa ini yang mungkin karena letaknya yang masih dalam kategori desa terpencil. Namun belakangan ini, Desa Sukaharja sudah mulai dikenal oleh beberapa kalangan traveler, khususnya traveler asal JABODETABEK. Hal ini dikarenakan di Desa Sukaharja ini terdapat sebuah wisata alam yang salah satunya dikenal dengan wisata Gunung Batu. Yap, Gunung Batu mungkin salah satu tempat wisata yang sangat cocok bagi para traveler yang hobi dalam mendaki gunung, dan sangat direkomendasikan bagi para pemula yang belum pernah mendaki gunung namun memiliki keinginan untuk mendaki gunung. Karena Gunung Batu ini hanya memiliki ketinggian kurang lebih 875mdpl. Hmmm, cukup pendek bukan. Penasaran? Langsung dah kuy kunjungi!!!
Share:

Minggu, 19 April 2015

Profil Singkat Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur - Bogor Timur

Desa Sukaharja merupakan sebuah desa yang berdiri pada tahun 1930, terletak di Kabupaten Bogor bagian timur, tepatnya di Kecamatan Sukamakmur, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kecamatan Sukamakmur sendiri merupakan pemekaran dari Kecamatan Jonggol. Hal ini membuat keberadaanya jarang diketahui orang-orang dan juga termasuk ke dalam kategori desa tertinggal di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Alamat Kantor Desa Sukaharja terletak di Jln. Dr. Ridwan No.1 Tinggarjaya dengan Kode Pos 16830.

Sejak Desa Sukaharja berdiri, desa telah banyak mengalami pergantian masa kepemimpinan, yang dipimpin oleh seorang kepala desa. Tercatat ada sekitar 16 orang yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Sukaharja dalam kurun waktu tertentu, termasuk yang sekarang.

........................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Untuk data lengkapnya, kalian bisa follow akun twitter saya di @maadiiiju atau DM via instagram di @madispec.
Semoga bermanfaat.
Share: