Selasa, 18 September 2018

Kisah Klasik "Kuliah Kerja Nyata" #KKN GEMPAR 2014 (Part 1)

Berbicara mengenai Kuliah Kerja Nyata atau sering disebut KKN, saya teringat apa yang pernah dahulu saya pikirkan tentangnya. Awalnya, saya beserta teman-teman saya menentang dan mengkritiki dengan diadakannya program KKN ini. Pada saat itu saya berpikir, kenapa sih harus diadakan “Kuliah Kerja Nyata” di desa-desa, apalagi desa terpencil pula, dan kenapa tidak diadakan program “magang” atau “kerja” di salah satu perusahaan, dimana akan sangat sinkron dengan latar belakang fakultas dan jurusan yang saya ambil di bangku perkuliahan. Belum lagi pikiran-pikiran negatif yang berasal dari ketakutan-ketakutan saya terhadap sebuah desa terpencil yang dipenuhi dengan berbagai permasalahan yang saya harus siap hadapi apabila KKN ini dilaksanakan. Ketakutan itu mulai dari dana yang harus dipersiapkan, air bersih yang sulit didapat, tempat tinggal yang jauh dari keramaian kota, hidup dengan orang-orang yang tidak saya kenal, akses transportasi yang susah, tidak adanya sinyal, waktu KKN yang begitu lama dan masih banyak lainnya. “Oh nooo!”, keluh saya di dalam hati.

Hari-hari pun berlalu, dan dengan perlahan saya mulai menerima keputusan dari universitas itu. Yah, walaupun pada saat itu dengan setengah hati. Saya pun mempersiapkan diri untuk segala sesuatunya. Saya awali dengan pencarian anggota kelompok untuk program KKN, yang mana anggota-anggota dari kelompok KKN ini nantinya akan menjadi teman seperjuangan saya dalam mendesign, melaksanakan dan menyukseskan program-program kerja yang akan dibuat bersama. Setelah mencari-cari anggota kelompok yang cocok dan sempat mendapatkan beberapa tawaran dari berbagai kelompok, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dan menerima tawaran dari teman dekat saya yang bernama Dede Saepudin, yang pada nantinya kelompok ini bernama KKN GEMPAR.

Kelompok ini berjumlah 14 orang dan didominasi oleh anak-anak alumni Pondok Pesantren As-Syiddiqiah. Hanya beberapa orang saja yang bukan, termasuk saya. Sebelum masuk ke dalam kelompok ini, saya sudah mengenal beberapa orang, sebut saja Iksan, Alam, Faiz dan Mu’min. Nah, Iksan ini adalah teman dekat saya di kampus dan kebetulan satu jurusan. Untuk Alam, Faiz, dan Mu’min, mereka adalah teman satu kosan Dede Saepudin, yang tidak lain adalah teman satu jurusan juga dengan saya sepeti halnya Iksan. Ketika saya dan Iksan sudah tidak ada jam kuliah lagi, kita berdua sering bermain ke kosan Dede untuk sekedar beristirahat. Itulah mengapa saya mengenal mereka bertiga. Walaupun demikian, ketika awal mula saya masuk dalam kelompok ini dan memperkenalkan siapa saya ke anggota lainnya, saya masih diselimuti rasa canggung. Mungkin karena sifat saya yang pemalu akan orang baru yang belum saya kenal, hehehe. Pikiran-pikiran aneh saya pun muncul lagi terhadap karakter masing-masing orang yang ada pada kelompok KKN GEMPAR ini. “Wah jangan-jangan dia orangnya seperti ini? Wah jangan-jangan dia orangnya seperti itu? Ah sudahlah, biar waktu yang menunjukkannya”, sangka saya di dalam hati.

Minggu demi minggu, kami mengadakan rapat dalam rangka pembuatan program kerja KKN dan membahas kebutuhan apa-apa saja yang harus dipersiapkan nantinya. Akhirnya, tiba juga hari di mana saya dan semua anggota KKN GEMPAR siap untuk berangkat dan siap untuk mengaplikasikan semua program kerja yang telah dibuat bersama dari hasil rapat yang begitu panjang. Setelah menempuh sekitar beberapa jam perjalanan dari Ciputat, akhirnya kami pun tiba di lokasi KKN. Ya, Desa Sukaharja namanya. Sebuah desa kecil di Kecamatan Sukamamur, tepatnya di sebelah timur Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa yang memiliki luas wilayah ±3.650 Ha dan tercatat dihuni oleh 6.881 jiwa atau 1.892 kepala keluarga pada akhir bulan September 2010. Desa di mana saya beserta kawan-kawan KKN GEMPAR akan mengabdikan diri sebagai representasi dari salah satu isi Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat.

Bersambung ke Part . . . 2 - 3 - 4

***
Share:

0 Komen:

Posting Komentar