Selasa, 25 September 2018

Kisah Klasik "Kuliah Kerja Nyata" #KKN GEMPAR 2014 (Part 3)

Sebelumnya di Part . . . 12

Pokoknya Desa Sukaharja itu sesuatu banget dah. Jika kata Andra and The Backbone mah, Sukaharja itu “sempurna”. Sempurna akan cintanya, keharmonisannya, kekeluargaannya dan keindahan desanya. Di Sukaharja ini, saya lebih mengerti apa makna sesungguhnya dari pepatah “tak kenal maka tak sayang”. Yaaa, sepintas pepatah tersebut memang terdengar umum dan biasa-biasa saja, namun setelah hal-hal yang selama ini saya alami dan saya peroleh di Desa Sukaharja ini, kalimat dari pepatah itu menjadi lebih bermakna dan lebih memiliki arti tersendiri buat saya. Mungkin orang-orang di luar sana benar, bahwa kita takkan pernah bisa mencintai apapun selama kita belum mengenal apa yang akan kita cintai pada nantinya. Contohnya saya, hehehe. Seperti yang saya katakan di atas sebelumnya. Awalnya, saya tidak mengenal apa itu Desa Sukaharja, dan sempat memandang Sukaharja itu dengan sebelah mata. Berpikiran, jika saya tidak akan betah untuk tinggal berlama-lama selama sebulan di sana. Namun, seiring waktu berjalan dan hal-hal yang saya dapatkan di sana faktanya pun berbeda. Merubah kesan awal saya terhadap desa sebelum melakukan kegatan KKN. Yaps, proses dan waktulah yang merubah segalanya. Ingin rasanya saya berlama-lama lagi tinggal di Sukaharja ini. Sempat juga berpikir, jika di suatu hari nanti ada rezeki ingin memiliki rumah di sana dan bisa melakukan sesuatu untuk desa dalam bentuk sebuah aksi nyata untuk membangun dan merubah Desa Sukaharja menjadi jauh lebih baik lagi. Ya, semoga impian ini bisa tercapai Ya Allah, hehehe.

Selama KKN di Desa Sukaharja ini, saya juga merasakan ada perbedaaan yang sangat kontras antara kehidupan di kota dengan kehidupan di desa. Katakanlah Jakarta dengan Sukaharja. Jika di Jakarta saya hanya bisa mendapatkan cinta dari orang-orang terdekat saya saja, maka lain halnya di Sukaharja yang telah banyak memberikan cinta ke saya dan juga kawan-kawan KKN GEMPAR. Sosok pribumi dan keramah-tamahannya yang masih kental dapat jelas saya lihat dan saya rasakan. Sopan santun, murah senyum, persaudaraan yang sangat erat, dan selalu menerima tamu yang datang dari luar layaknya keluarga sendiri, itulah Sukaharja. Saya merasa mendapatkan keluarga baru di sana. Salah satu pengalaman yang kami rasakan yaitu, kami sering diundang oleh masyarakat sana untuk melakukan liwet bersama, yang terlebih dahulu diawali dengan melakukan tahlilan. Dari situ kami menambah keakraban kami melalui makan-makan bersama diiringi dengan percakapan santai. Mungkin karena hal-hal inilah yang membuat saya pribadi merasa dirangkul dan merasa dijadikan salah satu bagian keluarga masyarakat Sukaharja. Selain itu, jika di Jakarta saya biasa disandingkan dengan hiruk-pikuk dan keramaian kota, maka di Sukaharja saya dimanjakan dengan kenyamanan, kesejukan dan keindahan panorama desanya. Ketika tanah pasundan diciptakan, Tuhan Yang Maha Esa sedang tersenyum. Nampaknya peribahasa tersebut benar adanya jika kita melihat keindahan alam yang dimiliki Desa Sukaharja, karena sangat memukau siapapun yang memandangnya. Bahkan dari salah satu video yang saya tonton di situs youtube mengenai Desa Sukaharja yang diunggah oleh Komunitas Bajidoris Bandung West Java pada tahun 2013, di dalamnya dikatakan bahwa ada sebuah majalah terkemuka di Indonesia pernah menyebut desa ini sebagai “Jalur Hijau yang Terpinggirkan”. Majalah yang sama juga menyebut Desa Sukaharja sebagai “Mutiara Hijau yang Terlupakan”Subhanallah. Mungkin apa yang dikatakan di dalamnya benar, jika kita mengungkap sebenarnya potensi apa yang dimiliki desa kecil ini, yang sungguh luar biasa. Desa Sukaharja kaya akan sumber daya alam, antara lain perkebunan, pertanian, pertambangan lokal dan perdagangan hasil bumi, serta sebagian masyarakatnya memiliki keterampilan dalam kerajinan pandai besi. Keterampilan tersebut sudah sangat terkenal dan menjadi pemasok utama perkakas di Kabupaten Bogor. Tampak jelas hutan-hutan rindang, hamparan persawahan, kebun, air terjun (curug), pegunungan dan gunung yang masih begitu alami yang menghiasi Desa Sukaharja. Salah satu gunung yang terkenal di sana adalah Gunung Batu, yang secara gagah berdiri kokoh dan menjulang tinggi di atas sana, yang seolah-olah selalu mengawasi semua kegiatan masyarakat Desa Sukaharja. Kami bisa mengatakan, bahwa Gunung Batu ini sudah seperti sebuah icon desa bagi masyarakat di sana. Membentang indah di tanah pasundan. Mungkin karena hal-hal inilah yang menjadikan Desa Sukaharja berbeda dengan desa-desa tetangga lainnya. Sehingga tidak salah jika Desa Sukaharja Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor dijuluki sebagai “Jalur Puncak Dua Bogor”. Bahkan dengan melihat potensi daerah dan perjuangan keras dari seluruh lapisan masyarakat desa dalam upaya melakukan perubahan-perubahan penting dalam sektor vital, bukan tidak mungkin Desa Sukaharja dapat menjadi desa percontohan Sekabupaten Bogor, dan tentu Sukaharja selanjutnya memiliki sebutan “Mutiara Hijau Bogor Timur”.

Mungkin salah satu permasalahan utama di sana yaitu akses jalan yang sulit untuk ditempuh, dikarenakan jalan yang rusak dan seram. Bayangkan saja, jika di Jakarta pada jam enam sore masih ramai dengan berbagai aktifitas yang menggunakan transportasi kendaraan bermotor, maka lain halnya dengan Desa Sukaharja yang sepi akan aktifitas dalam menggunakan transportasi kendaraan bermotor. Ini dikarenakan ketakutan warga akan rawannya tindak kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat di jalan atau yang di sana sering disebut sebagai “bajing lompat” yang selalu menghantuinya. Belum lagi suasana jalan di sekitar desa yang sangat sepi, gelap dan seram yang menambah ketakutan bagi setiap orang yang melintas. Saya sendiri pun pernah mengalaminya bersama teman saya yang akrab disapa Alam. Pada saat itu kami berdua baru saja pulang dari berbelanja kebutuhan hadiah lomba. Kebetulan kami pulang jam enam sore, dan Masya Allah, itu yang namanya jalan sudah rusak, sepi, gelap pula. Dengan perasaan takut yang menghantui saya akan adanya hantu ataupun bajing lompat, saya pun mulai mengeluarkan komat-kamit dalam bentuk do’a dengan perlahan, hehehe. Entah apakah Alam takut juga atau tidak. Namun, sepertinya sih dia takut juga, hahaha. Ini bisa dilihat dari cara dia mengendarai motornya yang ngebut dan mengikuti kendaraan orang lain di depannya dengan tujuan supaya ada teman perjalanan, ya walaupun orang yang diikuti tadi sudah sampai duluan ke tempat tujuannya. Saya berani bertaruh, bahwa orang yang kami ikuti tadi pasti juga merasa takut berjalan sendiri di kegelapan malam dan merasa senang ada motor lain yang melintas bersama dengannya, yaitu kami. Saya pun yakin, ketika dia sudah tiba terlebih dahulu di tempat tujuannya, pasti di dalam hatinya dia berkata, “Asyik sudah sampai. Terima kasih sudah mengikuti dan menemaniku.”, dan dengan tawa jahat dia pun berkata, ”hehehe, sekarang rasakan kalian, jalan sendirian di tengah kegelapan malam dan tidak tak ada teman kendaraan lain, hahaha”.

Bersambung ke Part . . . 4

***
Share:

0 Komen:

Posting Komentar