Sabtu, 04 Mei 2013

Ambivalensi Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


   Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah banyak mendominasi kehidupan manusia, termasuk interaksinya dengan alam sekitar dan sesamanya. Kemajuan Iptek banyak dijadikan sebagai tolak ukur menilai maju-tidaknya peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia. Tidak mengherankan kalau akhirnya ilmu pengetahuan dan teknologi diagung-agungkan, dan setiap bangsa berlomba untuk memilikinnya. Tapi pertanyaan yang muncul adalah: Apakah Iptek merupakan pilihan satu-satunya bagi pengembangan peradaban manusia, bagi pemenuhan kebutuhannya dan untuk menjawab semua permasalahan yang dihadapinya? Dan apakah Iptek sama sekali tidak membawa serta sisi-sisi negative bagi manusia dan kehidupan pada umumnya? Dari kenyataan yang terjadi hingga sekarang ini, semakin disadari bahwa kemajuan yang semakin pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, selain membawa manfaat besar bagi kehidupannya, juga membawa serta didalamnya masalah-masalah etis yang  serius. Itulah ambivalensi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ambivalensi Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
1.   Optimisme Kemajuan Ilmu
     Tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak membawa kemudahan dalam kehidupan manusia. Ada cukup banyak hal yang sebelumnya tidak terbayangkan, sekarang menjadi kenyataan. Hal ini terjadi di banyak bidang kehidupan, seperti misalnya di bidang transportasi dan komunikasi, yang kini sangat memudahkan setiap orang untuk pergi atau melakukan komunikasi kepada banyak orang. Di bidang pelayanan kesehatan terjadi kemajuan sangat pesat, yang telah membuat hidup bisa lebih berkualitas dan meningkatkan umur harapan hidup. Hal yang utama bertambah dengan kemungkinan-kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kemampuan manusia itu sendiri. Filsuf Inggris, Francis Bacon (1561-1623) sudah menyadari aspek penting ini dengan menekankan bahwa knowledge is power. Dan filsuf Perancis, Rene Descartes (1596-1650) menuliskan sebuah keyakinannya di bagian akhir salah sau bukunya, bahwa umat manusia bisa menjadi “penguasa dan pemilik alam”. Kepercayaan akan kemajuan ilmu pengetahuan menjadi sangat kentara dalam pemikiran filsuf Perancis, August Comte (1798-1857), yang memandang zaman ilmiah- yang disebutnya “zaman positip”- sebagai puncak dan titik akhir eseluruh sejarah.
     Pandangan optimisme manusia akan kemajuan yang dihasilkan oleh ilmi pengetahuan dan teknologi berlangsung terus, dan mencapai puncaknya dalam abad ke-19. Ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap sebagai kunci utama untuk memecahkan berbagai kesulitan yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Namun, pandangan yang begitu optimis ini harus segera ditinjau kembali. Dengan berbagai kenyataan yang ada, kita harus berani melakukan penilaian, bukan hanya atas segi positif dari iptek itu sendiri, melainkan juga atas sisi negatifnya. Sejalan dengan hal-hal positip yang dibawakannya, ternyata banyak juga sisi negative yang terjadi dengan konotasi etis, yang dibawa serta oleh kemajuan iptek itu sendiri dalam kehidupan. Kalau sebelunya hanya terdapat kekaguman terhadap kemajuan luar biasa dari iptek, maka ketika bom atom dijatuhkan pertama kali di atas kota Hirosima, 6 Agustus 1945, disusul tiga hari kemudian di Nagasaki, kesadaran manusia akan sisi negatif dari kemajuan iptek, menjadi terbuka. Ini adalah hasil dari kemajuan penguasaan fisika nuklir. Dari penguasaan yang semakin baik di bidang fisika dan kimia telah dikembangkan berbagai persenjataan, termasuk persenjataan pemusnah missal. Sudah berapa banyak yang telah menjadi korban dari persenjataan seperti itu. Dan sekarang umat manusia senantiasa dihantui oleh ketakutan dan kecemasan berkepajangan, kapan hidupnya diakhiri oleh senjata-senjata maut itu. Berbagai fakta juga menunjukkan bahwa perkembangan pesat dalam penguasaan teknologi tanpa batas dalam industri modern telah membawa kerusakan besar pada lingkungan hidup. Inilah yang dimaksud dengan ambivalensi kemajuan iptek, yakni bahwa iptek itu sendiri membawa serta, baik sisi positif maupun sisi negative bagi kehidupan.

2.    Masalah Bebas Nilai
     Apakah ilmu itu bebas nilai? Artinya tidak ada hubungannya dengan dengan nilai-nilai? Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, ada pro dan kontra mengenai kaitan antara ilmu dengan moral atau dengan nilai. Metode ilmu pengetahuan memang otonom dan tidak boleh dicampuri oleh pihak lain. Tidak ada instansi lain yang berhak menyensor dan menentukan penelitian ilmiah. Dan memang kini sudah diterima tanpa keberatan dan prosedurnya. Tidak ada hak atau kuasa dari instansi lain, entah itu terjadi atas nama nilai moral, nilai keagamaan, atau alas an apapun juga. “Kami mencari kebenaran dan bukan sesuatu yang lain” sudah lama menjadi semboyan banyak ilmuwan.
     Campur tangan instandi lain dalam metode ilmiah tidak saja merugikan ilmu, tetapi juga merugikan instansi itu sendiri, karena kredibilitasnya bisa berkurang, lebih-lebih bila terbukti kemudian bahwa ap yang dihasilkan oleh ilmu itu merupakan kebenaran yang tak terbantahkan. Contoh klasik adalah seorang ilmuawan Itali, Galileo Galilei, yang pada tahun1633 dipaksa oleh gereja untuk menaraik teorinya bahwa bumi mengelilingi matahari dan tidak sebaliknya, karena dinilai oleh gereja bertentangan dengan Kitab Suci. Ternyata kemudian, apa yang dikemukakan oleh Galileo Galilei itu benar. Dalam abad ke-20 ini masih terjadi kasus sejenis di mana dalam hal ini Negara campur tangan dalam menentukan kebenaran atau ketidakbenaran penemuan ilmiah. Di Uni Sovyet, ahli biologi dan genetika, T.D. Lysenko, berhasil meyakinkan pemerintah Stalin bahwa teori genetika Mendel yang tradisional itu bersifat anti Marxistis dan bahwa teorinya sendiri sesuai dengan ajaran komunis dan akan memungkinkan loncatan maju di bidang pertanian. Ternyata di kemudian hari terbentuk pendapat umum di kalangan ilmuwan bahwa teori Lysenko itu tidak benar. Tapi, dengan, dengan wibawa kekuasaan ang ada di tangannya stalin memenangkan Lysenko dan para pengikutnya, sedangkan ilmuwan-ilmuwan yang tidak sependapat disingkirkan. Seorang ahli genetika terkemuka N.I.Vavilov, yang ternyata berani mengkritik teori Lysenko, meninggal dalam kamp konsentrasi sebagai “martir” demi ilmu pengetahuan yang otonom .Pada tempatnyalah bahwa metode ilmu pengetahuan itu otonom dalam mencari kebenaran. Akan tetapi perlu diakui juga bahwa ilmu, dan terutama teknologi-sebagai penerapan ilmu teoritis-akan berhadapan dngan nilai-nilai. Sekarang ini kemampuan manusia yang tmapak dalam penguasaan ilmu dan teknologi yang semakin maju bertautan erat dengan kekuatan ekonomis dan politik/militer. Penelitian ilmiah yang amat terspesialisasi membutuhkan dana yan sangat besar. Maka ilmuwan, dengan segala maksud luhur yang terpendam dalam hatinya, tidak akan bisa berbuat banyak bial dana yang dibutuhkan tidak tersedia secara memadai. Supaya penelitian dapat terlaksana atau harus dilaksanakan, maka diperlukan keterlibatan pihak atau instansi tertentu sebagai penyandang dana. Dan tidak sulit dimengerti bahwa pihak yang membiayai penelitian ilmiah tentu punya maksud dan harapan tertentu, yang pasti sangat berkaitan dengan kepentingan tertentu. Maka dapat dikatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sekarang ini hamper tidak bisa dilepaskan dari kepentingan tertentu, yang umunya terkait dengan kepentingan bisnis dan politik/militer, yakni kekuasaan.

3.     Kemenangan ilmu pengetahuan
     Pada awal perkemnbangannya, ilmu pengetahuan sudah dihadapkan dengan masalah-masalah moral, yang sebagian besarnya bersumber dari ajaran agama. Secara metafisik, ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedanglkan di pihak lain berkembang keinginan agar ilmu didasarkan pada nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran-ajaran lain di luar bidang keilmuan. Itulah yang terjadi pada diri gallileo yang terpaksa menjalani pengadilan inkuisisi pada tahun 1633. Dapat dikatakan, kurang lebih dua setengah abad sejak kejadian tersebut, peristiwa itu telah mempengaruhi proses perkembangan berpikir di Eropa, di mana terjadi semacam pertarungan antara ilmu yang ingin terbebas dari nilai-nilai di luar bidang keilmuan dan ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan yang ingin menjadikan nilai-nilainya sebagai penafsiran metafisik keilmuan. Dalam suasana pengaruh yang sangat kuat dari agama (Gereja), para ilmuwan tetap berjuang untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya. Setelah pertarungan selama kuran lebih duaratus lima puluh tahun itu akhirnya ilmu pengetahuan mendapatkan kemenangan. Sejak saat itu ilmu memperoleh otonomi dalam melakukan penelitian-penelitian dalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya. Berbagai pengembangan konsepsional pemikiran yang bersifat kontemplatif dilanjutkan dengan penerapan konsep-konsep ilmiah kepada masalah-masalah praktis. Dengan demikian konsep-konsep ilmiah yang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk yang semakin kongkrit, yakni teknologi. Jadi teknologi disini kita artikan sebagai penerapan konsep ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah praktis, baik yang berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Dalam tahap ini ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, namun lebih jauh lagi, bertujuan memanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi. Perkembangan ini, Bertrand Russell menyebutnya sebagai peralihan ilmu dari kontempelasi ke manipulasi.

Sumber Oleh: Antonius Atosokhi Gea & Anonina Panca Yuni Wulandari dalam bukunya CHARACTER BUILDING IV: Relasi dengan Dunia (Alam, Iptek & Kerja)
Share:

1 komentar: